Rabu, 04 Mei 2011

CURAH HUJAN

Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi baik menurut waktu maupun tempat (Boer, 2006). Oleh karena itu, kajian tentang iklim lebih banyak diarahkan pada hujan. Hujan memegang peranan penting dalam penyediaan air bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Hal ini disebabkan air sebagai pengangkut unsur hara dari tanah ke akar dan diteruskan ke bagian-bagian lainnya. Fotosintesis akan menurun jika 30% kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan terhenti jika kehilangan air mencapai 60% (Griffiths, 1976).
Penentuan awal musim kemarau, musim hujan dan tipe iklim baik Oldeman maupun Schmidt-Ferguson berdasarkan jumlah curah hujan. Selain itu dapat pula dipakai untuk mengkategorikan pola hujan suatu daerah.
Pola Hujan dikategorikan menjadi 3, yaitu ;


a. Pola Monsun
Pola ini terjadi akibat proses sirkulasi udara yang berganti arah setiap 6 bulan sekali. Karakteristik dari jenis ini adalah distribusi curah hujan bulanan berbentuk “ V “ dengan jumlah curah hujan minimum pada bulan Juni, Juli atau Agustus. Saat monsun barat jumlah curah hujan berlimpah sebaliknya pada saat monsoon timur jumlah hujannya sangat sedikit. Banyak daerah di Indonesia yang mempunyai curah hujan dengan pola jenis Monsun.

b. Pola Ekuatorial
Pola ini terjadi berkaitan dengan pergerakan matahari yang melintas garis equator sebanyak dua kali dalam setahun. Distribusi curah hujan bulanan mempunyai dua maksimum. Pola ini sering terjadi pada daerah ekuator seperti Pontianak dan Padang.

c. Pola Lokal
Distribusi curah hujan bulanan jenis lokal kebalikan dari jenis monsun. Apabila di daerah dengan pola monsun mengalami musim hujan maka daerah dengan pola lokal mengalami musim kemarau atau sebaliknya. Pola ini dipengaruhi oleh sifat lokal seperti kondisi geografi dan topografi setempat. Daerah yang mempunyai pola dengan jenis ini sangat sedikit, misalnya Ambon. 

Jika dikaji dari tipe iklim Schmidt-Ferguson (klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan) maka wilayah NTT memiliki iklim yang cukup beragam, yaitu
bertipe iklim B (basah) sebanyak 2%, tipe iklim C (lembab) sebanyak 10%, tipe iklim D (agak lembab) sebanyak 16%, tipe iklim E (agak kering) sebanyak 51%, tipe iklim F (kering) sebanyak 20% dan tipe iklim G (sangat kering) sebanyak 1%.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pertanian di NTT didominasi oleh pertanian lahan kering dimana untuk kebutuhan air tanaman hanya mengandalkan dari curah hujan.
Curah hujan merupakan faktor pembatas utama dalam pengelolaan pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur dibandingkan dengan unsur iklim yang lain karena keragamannya sangat tinggi terhadap ruang maupun waktu. Curah hujan sebetulnya cukup pada sebagian besar wilayah NTT, tetapi distribusinya tidak merata, cenderung mengumpul pada periode singkat dan bersifat eratik. Hal ini dikarenakan jenis hujan yang berbeda.
Jenis Hujan dikategorikan menjadi 3, yaitu :

a. Hujan Konvektif
Hujan jenis ini biasanya tidak efektif untuk tanaman karena air hujan sebagian besar akan hilang dalam bentuk arus permukaan tanah. Jenis hujan ini terbentuk akibat pemuaian udara permukaan dari pemanasan radiasi matahari yang naik ke atas, kemudian terjadi pengembunan. Gerakan vertikal udara lembap yang mengalami pendinginan dengan cepat akan menghasilkan hujan deras namun tidak berlangsung dalam waktu yang lama.

b. Hujan Orografik
Hujan jenis ini terjadi akibat pembentukan awan pada lereng diatas angin (windward side) yang disebabkan oleh terjadinya kondensasi gerakan udara naik ke pegunungan atau bukit yang tinggi.

c. Hujan Konvergensi dan frontal
Hujan jenis ini terjadi akibat pertumbuhan awan yang disebabkan oleh adanya kenaikan udara di daerah konvergensi pada arus udara horisontal yang naik ke atas dari massa udara yang besar dan tebal.

Pada kenyataan yang sering dialami, sering terjadi gangguan iklim pada periode musim hujan. Secara umum bentuk gangguan iklim selama periode musim hujan/musim tanam terhadap sistem usaha tani di NTT, antara lain :
 
1. Hujan Tipuan (false rain)
2. Distribusi Hujan Tidak Merata
3. Periode Hari Kering (dry spell)
4. Keterbatasan Curah Hujan Yang Ekstrim
5. Hujan Lebat (heavy rain) Yang Menyebabkan Banjir
6. Angin Kencang (strong wind)

Curah hujan yang lebat dapat merusak tanaman secara langsung atau menggangu pembungaan dan penyerbukan. Jumlah air berlebihan di dalam tanah atau di sekitar lahan akan mengubah berbagai proses kimia dan biologis yang membatasi jumlah oksigen dan meningkatkan pembentukan senyawa beracun pada akar tanaman. Sedangkan curah hujan yang sedikit dapat menyebabkan kekeringan (drought). Kekeringan terjadi jika persediaan air dalam tanah tidak mencukupi untuk kebutuhan tanaman.

Untuk menjadi informasi yang lebih aplikatif di bidang pertanian, dalam hal ini untuk menunjang perencanaan musim tanam, pola tanam dan pemilihan jenis/ varietas komoditas pangan perlu dilakukan analisis neraca air lahan. Salah satu metode kajian neraca air yang telah dilakukan di Kupang adalah Analisis Neraca Air Berdasarkan Metode Cocheme-Franquin (Geru, 2005).

Untuk membangun sistem pertanian yang maju berbasis iklim, Pemerintah Daerah hendaknya memperhatikan kondisi peralatan pengukur cuaca/iklim yang menghasilkan data iklim, yang selanjutnya digunakan untuk analisa iklim dan agroklimat. Keberhasilan perencanaan pembangunan pertanian di suatu daerah kering tergantung pada pemanfaatan air secara efektif yang berasal dari curah hujan dalam selang waktu yang tepat, sehingga kebutuhan air oleh tanaman pada saat memerlukan air yang cukup tidak kekurangan, dengan demikian tanaman akan berkembang dengan baik dan akhirnya akan memberikan hasil yang baik pula (Manik, 1990).

Kondisi alat penakar hujan di NTT saat ini sebagian besarnya banyak yang rusak, untuk itu diharapkan respons dan bantuan dari Pemerintah Daerah dalam pengadaan dan pemasangan alat tersebut.

1 komentar:

  1. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yth. Bapak Apolinaris atas bantuan data yang telah kami butuhkan untuk KKT di Kobangdikal. Kpt Syahrul Abadi

    BalasHapus

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi.
Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Terimakasih atas kunjungan anda..